Alkisah seorang ulama bertemu dengan saudagar lalu ia memberikan sebuah permadani yang sangat mahal. sang ulama pun berkata aku tidak mau menerima ini dari kamu soalnya kamu miskin. Saudagar pun terhenyak dan berkata "eh mengapa kamu berkata demikian, aku saudagar kaya aku memiliki sejumlah kekayaan, aku punya 2000 dinar". sang ulama berkata "maukah jika kamu saya beri 2000 dinar lagi". saudagarpun berkata "wah mau sekali, terimakasih". sang ulama berkata "berarti kamu miskin".
ya dari percakapan tersebut menggambarkan tabiat manusia yang tak pernah puas dan tamak akan harta. harta memang perlu akan tetapi cara mendapatkannya dan penggunaannya di atur dalam syariah.
orang miskin berupaya dengan keras untuk mendapatkan kekayaan dengan sabar dan penuh semangat. pada saat tertentu ia berhutang banyak dan tidak mungkin untuk menutupi hutang yang harus dibayar, tindakan khilaf datang, ia dengan pikiran bingung bercampur bisikan-bisikan syetan melihat buah semangka berwarna hijau menggiurkan. iapun tertarik untuk mengambil tanpa meminta izin dari sang empunya. iapun mencuri semangka tersebut dengan sengaja. iapun menjadi orang yang tersesat.
lain cerita, pejabat miskin berupaya dengan keras untuk mendapatkan kekayaan dengan sabar dan penuh semangat. pada saat tertentu ia mengurus dana yang besar untuk keperluan kedinasan, tindakan khilaf datang, ia dengan pikiran bingung bercampur bisikan-bisikan sayetan melihat uang yang begitu besar dihadapannya sangat menggiurkan. iapun tertarik untuk mengambil tanpa meminta izin dari sang empunya. iapun mencuri uang tersebut dengan sengaja. iapun menjadi orang yang tersesat.
tiap bulan pejabat miskin menerima upah yang melebihi dari cukup sekedar pangan, sandang, papan. suatu saat ingin memenuhi kebutuhan sekunder membeli mobil, plesiran, membuka usaha, atau lainnya. tentu uang yang ia terima tidak lagi mencukupi. ia mengeluh dengan amat sangat, mengapa tidak ada uang ini itu, adakah gaji saya akan dinaikkan, bagaimana ini, apa yang harus saya berbuat. berapapun uang yang ia dapat tidak akan menjadikannya puas, uang yang banyak ia imbangi dengan style tinggi. mampu beli motor, ingin beli mobil, mampu beli mobil ingin beli helikopter..........
contoh-contoh di atas mengindikasikan dua kejadian berbeda dengan persamaan sebab "kemiskinan".
"kemiskinan" tak hanya berapa materi yang ia punya akan tetapi bisa berupa kemiskinan moral, kemiskinan akhlak, dan bertindak berdasar hawa nafsu semata.
kejujuran, semangat dan dedikasi tinggi pada pekerjaan, qona'ah dan sifat baik lainnya di atas segalanya. setidaknya kita berusaha.
berbeda dengan orang kaya ia dengan uang yang telah ada tidak mengeluh, iapun bercita-cita, iapun bersemangat dan men-dedikasikan diri secara utuh dalam pekerjaannya. ia merasa cukup, ia berinofasi dengan dana yang ada, ia berfikir dengan keras, ia berusaha sekuat tenaga tanpa meninggalkan tanggung jawab terhadap pekerjaan yang ia emban. saat ia tidak sanggup mencapainya dalam hati ia berkata "suatu saat saya bisa mencapainya".
saudara sekalian mana mungkin orang miskin yang anda sebut "RAKYAT" akan menjadi kaya jika yang mengurus rakyat ini pajabat miskin.
@@@ ironi @@@
0 komentar:
Poskan Komentar